Minggu, 02 September 2012

Merah Putih Mendarah Daging

Ahh rasanya sudah lama nggak ngisi blog ini , sampai pada akhirnya jemariku ini sepertinya horny untuk menulis kembali dan menghidupkan mini site ini *kebas-kebas debu di dashboard*. Okelah sebelum aku menguak bacotan yang sekiranya bisa ngentengin kapasitas isi kepalaku, aku mengucapkan minal minul *ehh “ Minal aidzin wal faidzin ya, Mohon maaf lahir bathin”. Kembali ke Nol ya :) 

Sepertinya aku baru saja melewatkan segudang momen yang mungkin seharusnya di bekukan dalam blog ini tapi apa daya karena ini Negeri berbayar, Koneksi Internet berbayar, Masuk ponten juga berbayar, apalagi mandi nambah serebu, duuhh banyak ngeluhnya ya aku. Hidup ohh Hiduuup.....
alasannya cukup fleksibel yaitu gada duit buat ngasih mamam modem :( tapi alhamdulillah pada akhirnya setelah mengumpulkan lembaran salam tempel dari segala penjuru, derajat aku di dunia maya ini terasa terangkat kembali. 

Jum’at 17 Agustus 2012
saat kakiku menapaki jalan depan rumah, embun sudah mengering, mungkin kalor mentari mulai bekerja walaupun dingin sisa udara malam masih menusuk sekujur kulitku.
Beda dengan lalu lalang anak sekolahan yang aku liat, mereka yang bergegas mengikuti upacara kemerdekaan di sekolah yang tak jauh dari tempat tinggalku, aku justru membantu ayah untuk mengirim satu set sofa ke Gresik. Hmmmm
***
Singkat cerita, mentari sudah mulai membakar bumi saat itulah aku sampai ke alamat yang kita tuju. Setelah sofa sudah menjelma di ruang tamu pelanggan ayah, lantas aku keluar beberes bak mobil sementara ayah masih tampak bercengkrama dengan kerabatnya itu. Dengan spontan kepalaku memutar 180 derajat setelah mendengar  cemoohan yang di lontarkan seorang pria paruh baya dengan lantang kepada seseorang yang tepat dibelakang aku. Tampak nenek-nenek dengan jalan membungkuk raut, muka mengkriput, lengkap dengan penutup kepala ala nini-nini. Dengan kebaya kusut yang menempel di tubuh ringkihnya, beliau menegakkan kembali bendera pusaka kusam yang tertancap didepan rumahnya. Lantas aku seperti terkoyak hatiku melihat pemandangan yang memilukan itu. Aku sempet kesal dengan pria yang melempar cemoohan kepada nenek itu untuk segera menegakkan tiang bendera yang roboh sedangkan dia (pria itu) masih dengan santainya duduk telanjang dada di bayang bambu yang sedikit reyot. Nenek itu mengumpulkan bebatuan untuk menyanggah supaya tiang benderanya tetap bisa berdiri walau angin berusaha meniupnya. Aku serasa tertegun melihat scene realita tersebut, tubuhku membeku memperhatikan seksama gerak-gerik nenek itu, niat beberes bak mobil pun sepertinya aku skip dulu. Tiang bendera pun sudah meninggi vertikal, aku rasa batuan itu sudah menyangga nya dengan kuat. Tubuh bungkuk itu masih berdiri didepan bendera sambil mengusap peluh di dahi berkerutnya seraya tersenyum lebar memandangi kain 2 warna itu.

Dan aku pun masih mematung melihat dengan seksama nenek itu, tiba-tiba nenek yang aku perhatikan itu mendekat ke arahku dengan langkah sangat pelan dan tanpa alas kaki. Setelah nenek didepanku beliau nyeletuk seperti ini “Nak kulo paling mboten saget ketinggal gendero rubuh niku, kulo semerep pahlawan2 bengen niku lek memperjuangno merah putih niku soro ne pol nak”. (“Nak saya paling tidak bisa melihat Bendera tersia-sia, saya tahu sendiri Pahlawan2 dulu itu memperjuangkan merah putih sangat sengsara sekali nak”). Mendengar suara itu aku semakin mematung dan banyak menimbulkan pertanyaan2 yang sudah berkubang di kepala ini.
“Mbah namine sinten?”

“Nami kulo Kasiyah nak”

“Mbah bengen niku pejuang nggeh?”

“inggih nak, saya dulu niku pejuang 45 pas umur kulo niku 15 belas tahun”

Aku kaget campur kagum, nenek ini berbicara bahasa Indonesia dengan fasih tak seperti nenek2yang sering aku temui kebanyakan.

“....saya dulu itu pengajar di sekolah rakyat nak, bapak saya tentara PETA. Dan saya masih ingat betul kekejaman pemerintahan Penjajah saat menyiksa saudara-saudara kami, Dulu saya juga pemimpin para perempuan saat menuju lokasi pengungsian dari gresik – jombang dengan jalan kaki”

“wah mbah hebat ya, kulo bangga kale jenengan mbah, mbah umure pinten?”

“Umur kulo 82 tahun nak, alhamdulillah sik diparingi seger waras karo sing kuoso”

“Inggih mbah alhamdulillah”

Dengan umur 82 Tahun beliau masih dengan jiwa kesatrianya menegakkan tiang bendera negeri tercintanya. Untuk kesekian kalinya aku berdecak kagum. Saat itulah air bening mulai jatuh dari kelopak mata mbah kasiyah dan beliau segera mengusapnya dengan kebaya kusamnya.

“loh mbah kenapa kok nangis?”

“kulo sedih nak lek ndelok arek2 enom sakniki sing mboten peduli  kale perjuangane pahlawan2 dulu, arek2 enom sakniki bedo kale bengen. Bengen niku semangat merebut kemerdekaan sulit sanget nak, taruhane nyawa, getih, bahkan keluarga nak. Saiki sampean delok sek katah sing dereng masang gendero teng griyane, bayangkan betapa sedihnya pahlawan2 dulu sing rela berkorban demi Indonesia tau lek tasik katah generasine koyo ngeten nak. Kulo sakit ati nak lek wonten tiyang sing mboten masang bendera pas kemerdekaan. Cuman masang bendera ae males nak yok nopo lek tumut perang koyok bengen?? Londo niku kejam, bahkan sangat kejam, untung sampeyan lahir sampun merdeka”

Panjang lebar mbah Kasiyah mengutarakan kekecewaan pada orang2 disekitarnya yang tidak peduli dengan kemerdekaan. Selama bercerita aku melihat kedua pasang mata itu berkaca-kaca dan Air mata sudah tak tertahankan lagi setelah beliau mengenang masa lalunya dia yg separuh hidupnya hidup dijaman serba perang. Aku yang mendegarnya cerita panjang mbah kasiyah ikut sedih. Sontak aku teringat dengan rumahku yang sampai saat itu belum juga terpasang bendera. Apakah aku ada dalam golongan yg mengecewakan mbah kasiyah?? Serasa aku mendapat tamparan diri karena kebodohanku yang sudah tak bisa di tolelir lagi.

Panggilan ayahku mengaburkan segalanya dan aku segera pamit ke Mbah Kasiyah buat pulang sambil berjabat tangan kepada beliau aku mendoakan agar mbah kasiyah tetap diberi kesehatan oleh Allah. Senyumanku kepada beliau dibalas dengan senyuman seorang pejuang 45. Aku begitu bangga sempat mendapat sebuah pelajaran berharga di Kemerdekaan ke 67 ini. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan yg ingin aku tanyankan dan jawaban dari mbah kasiyah tapi mau gimana lagi. Di dalam mobil pun aku melampiaskan keingintahuanku kepada ayah, dan Ayah mengatakan kalau Mbah Kasiyah itu ibunya temen ayah kerja dulu, sedangkan Pria yang mencemooh mbah kasiyah tadi yang bertelanjang dada, duduk di bayang bambu itu anaknya yang sakit lumpuh dan ditinggal minggat oleh anak istrinya 6 tahun terakhir. Ohh sungguh memilukan, seorang pejuang wanita tinggal dengan seorang pria paruh baya lumpuh dan bisa dibayangkan betapa kerasnya hidup mbah Kasiyah. Walaupun begitu  mbah kasiyah tetap berkharisma di jajaran mbah-mbah yang pernah aku temui, sosok pejuangnya masih belum luntur walau raganya sedikit demi sedikit tergerus usia. Semoga Mbah Kasiyah dan keluarganya tetap di beri Kesehatan oleh Allah. Aminn :)

Dan sebagai penerus kita wajib menauladani sosok seperti mbah Kasiyah, Laki perempuan sama saja :) Berbanggalah kita menempati negeri yang didalamnya banyak pahlawan2 gagah yang berani berkorban demi negara bukan karena Hadiah dari kompeni dan Mari kita teruskan perjuangan Para Pahlawan kita :)

CMIIW
DIRGAHAYU INDONESIA KE 67

1 komentar:

  1. How to make money with crypto casino games - Work Tomake
    In today's live casino, หารายได้เสริม it 1xbet korean is possible 인카지노 to play the games online and win real money. Play slot machines on the internet and the live dealer

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...